Menggali Hobi Lama

Saya punya kebiasaan yang sangat mengasyikkan, yaitu berdiskusi dengan pikiran sendiri. Saya percaya bahwa pikiran dan seluruh indra yang kita miliki untuk memperoleh informasi ini adalah salah satu mahakarya terhebat dari Allah. Dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin adalah sebuah tanda dari rasa syukur yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia.

Saya berdiskusi dengan pikiran saya di banyak hal mulai dari masalah yang fundamental seperti soal kebenaran tentang adanya Tuhan sampai ke hal-hal seperti kenapa bagi sebagian orang, saya terlihat sangat polos.

Menyadari bahwa diskusi pikiran adalah kegiatan yang menarik dan lumrah dilakukan oleh setiap orang baik secara sadar maupun tidak, saya rasa akan sangat menyenangkan ketika kita bisa mengetahui hasil dari diskusi panjang pikiran seorang dengan dirinya sendiri. Dan, salah satu media yang bisa menampung hal itu adalah membaca.

Ya, membaca itu seperti mengobrol dengan pikiran orang lain. Dan ketika mengobrol dengan pikiran orang lain melalui tulisan, saya tidak perlu direpotkan dengan segala tetek bengek basa basi yang kadang malah menghambat proses transfer ilmu itu sendiri.

Kita tahu bersama bahwa Pramoedya Ananta Toer sudah meninggalkan dunia ini sejak lama. Namun, pemikirannya masih hidup. Saya sependapat dengan sebagian argumennya, meskipun saya juga menolak sebagian lainnya. Saya bisa ‘bercengkrama’ dengan pemikirannya hingga larut malam melalui roman terhebat yang pernah saya baca : Tetralogi Buru. Saya jadi paham bagaimana seharusnya seorang manusia menyikapi keberadaannya sebagai manusia, kaitannya dengan kebebasan dan kemerdekaan yang seharusnya dimiliki setiap orang. Saya juga menjadi mengerti bagaimana sebuah organisasi mampu menjadi momok bagi pemerintah kolonial ketika itu.

Yang paling saya suka, dan mungkin kalian juga pernah dengar dari perkataannya, adalah soal manusia dan tanggungjawabnya untuk menulis. Kira-kira beliau mengatakan bahwa sepandai-pandainya manusia, jika dia tidak menulis, maka dia akan hilang ditelan sejarah. Saya kemudian jadi ingat senior saya di kantor yang mengatakan perkataan yang serupa namun dengan bahasa yang lebih ‘kasar’. Beliau kira-kira bilang, “Sepandai-pandainya orang ya, kalau dia nggak menulis, nggak punya blog yang berisi tulisannya, ya orang nggak akan tahu kecerdasannya. Kecuali otaknnya dicecerkan dijalanan dan kemudian orang-orang bisa membacanya.”

Kemudian, saya juga senang sekali dengan pemikiran Salim A. Fillah yang boleh dibilang berbeda dengan pemikiran yang dimiliki oleh Pram. Meskipun bahasa yang digunakan cukup kaya akan kiasan yang kadang membuat bingung, tapi Ustadz Salim mampu membawakan sebuah cerita itu dengan sangat santun dan penuh makna.

Selain buku, saya juga senang membaca tulisan-tulisan yang ada di internet, baik di sosial media ataupun di website/blog. Saya tertarik sekali dengan apa saja yang dipikirkan oleh Mas Agus Mulyadi sehari-harinya sehingga tulisannya begitu absurd tapi dengan sudut pandang yang lain. Saya juga tertarik dengan tulisan-tulisan dari Mas Bondan Satria Nusantara yang secara gamblang menjelaskan sesuatu yang kadang tak terpikirkan oleh kita namun sering kita alami.

Maka dari itu, saya berusaha kembali menekuni hobi lama saya yaitu menulis, ya supaya orang lain juga bisa tahu apa saja yang saya pikirkan, apa saja yang saya alami dan apa saja hasil diskusi saya dengan pikiran saya meskipun, yaa, rasanya juga nggak banyak-banyak amat yang pengen baca tullisan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *